Hari ini hari jumat tanggal dualima januari. Aku sedang menatap kejauhan , rintik hujan, dan bisingnya kendaraan, serta suara kucing mengeong menjadi temanku. Bukan, aku bukan seorang putri raja yang kesepian. Aku tidak duduk di pinggir jendela besar berkubah mewah. Bukan. Aku hanya gadis biasa. Sebenarnya rumahku ramai penghuni, tapi aku merasa sepi. Walau sepi, aku suka. Itu namanya ketenangan. Menatap kejauhan adalah keahlianku, membaca buku adalah prioritasku, mendengar musik adalah hiburanku, yah itu semua ada dalam diriku. Aku sangat menyukai ketenangan, aku benar-benar menjaga ketenangan. Tak akan kubiarkan satu orangpun mengacaukan hari-hari tenangku. Sampai satu hari yang cerah kutemukan seorang pemuda yang berwajah lumayan berjalan menghampiriku, dia tersenyum. Itu membuatku sebal. Dia merusak momen tenangku. Aku memohon padanya untuk berhenti tebar pesona, karena aku sudah kebal. Yang membuatku terganggu adalah para gadis disekelilingku. Sungguh menyebalkan mendengar teriakan gadis-gadis bodoh bermake-up tebal, kakiku sudah berontak ingin melepaskan hantaman ke arah mereka. Tapi, aku harus sabar. Pemuda ini duduk disampingku, merampas buku yang sedang ada dipangkuanku. Pemuda ini mengguncang mentalku. Aku menatap lurus kedepan, mencoba mencari pusat kejauhan, tapi tiba-tiba yang ada didepanku adalah wajah pemuda itu. Apa maunya?
Ah, aku memang pria sempurna. Tak ada yang bisa mengalahkan ketampananku. Segalanya kudapatkan dengan mudah, memang bodoh sekali orang orang disekelilingku. Aku memang hebat dan berbakat. Walau aku seorang anak yatim, tak ada satu orang dewasa pun yang kubutuhkan. Aku kuat, mereka hanya sampah tak berguna. Aku memiliki kehidupan luar biasa menyenangkan. Semua gadis pasti menoleh dua kali ketika aku berjalan, entah karena wajahku yang memikat atau aromaku yang mengguncang. Aku suka sensasi menyenangkan itu. Indahnya hidupku. Aku tak suka berteman, pasti akhirnya mereka iri padaku dan menjauh. Pasti ada saja gadis yang mengekoriku, haha mereka bodoh. Aku suka jalan-jalan ke taman ini, tapi pemandangan kali ini baru bagiku. Seorang gadis sedang membaca ditengah kebisingan kota. Ditengah-tengah keramaian gadis dungu berwajah tambalan putih, gadis itu dengan tenangnya membaca seolah tak ada siapapun di sekelilingnya. Hem.. Menarik. Tapi, paling-paling tipe gadis seperti itu ingin mencari perhatian, ingin didekati oleh seorang pria yang terjerat jampi-jampinya. Dia sedang istirahat! Waktunya bagiku menaklukan seorang gadis ditengah keramaian. Aku tersenyum padanya. Namun, ekspresi yang tak pantas kutemukan di wajahnya. Dia bilang berhentilah beraksi sok keren. Lebih baik aku duduk disampingnya dan membuat obrolan menyenangkan. Dia pasti jatuh. Hal yang mengherankan, bukannya terpesona karena ada pemuda tampan yang menghampirinya, dia malah berusaha mengabaikanku. Kuambil bukunya agar dia tak melanjutkan membaca. Dia malah menatap kedepan. Membuatku kesal. Lalu aku menghadap ke wajahnya, aku menantang tatapannya. Aku merasa menang.
Bersambung.........

0 comments:
Post a Comment