Salam!
Duh gue berasa gak enak soalnya salam itu nama daddy. Tapi, konsep gue akhir-akhir ini adalah anti-mainstream. Gak ngehai, gak ngehello.
Sebelum itu gue mau cerita dulu. Jadi barusan gue nemu blog yang merasa bangga menulis dengan isi personal life. Gimana ya. Bleki emang isinya tentang hidup gue, tapi gue gak ngerasa bangga. Gue cuma menganggap bleki sebagai ajang curhatan sampah gue. Maaf ya blek....
Ketika gue baca isi blog @agungwicaks, gue merasa tertampar. Jadi gue salah ya? Tapi bleki satu-satunya dan sama bleki lah gue bersandar. Maaf gue random.
Eh maaf buat mas agung saya kepoin, soalnya jarang-jarang ada yang komen ke bleki. Ngerasa di appreciate aja gitu. Pertama gue mikir gini, gue ngepost soal diri gue. Emang ada yang mau baca with their pleasure? Emang pentingkah hidup gue buat dibaca-baca? Well, karena gue suka nulis tetep lanjutin aja dan kembali ke prinsip be tambeng. (Tambeng adalah bahasa Palembang yang kira-kira artinya muka tembok )
Kedua, gue selalu ngayal gini "kalo ada yang baca berarti gue punya fans". Dan gue selalu merasa gue banyak fans, walau kenyataan berkata lain. Kenyataan yang pahit...
Nah, gue bukan tipe gadis ceria yang suka loncat sana-sini, punya temen sana-sini, ditaksir orang sana-sini. Gue tipe misterius, bahkan temen gue SMA bilang kalo gue jalan kayak zombie, ngeliat lantai dengan langkah gede-gede. Well, keramaian is not my style. Perpus adalah tongkrongan gue. Dan populer bukan gue banget. Gue paling males kalo jadi pusat perhatian. Mungkin gara-gara trauma SMP. Intinya, gue berimaji kalo gue populer.
Ketiga gini, gue pengen ngeshare. Dan kayak mas agung pula, gue terinspirasi dari para blogger semacam bang Radit dan bang Arip poconggg.
Gue gak terlalu butuh apresiasi, tapi kalo ada sih gak masalah. Gue pernah desperate soal ketidakpopuleran bleki di mata masyarakat. Tapi sekarang gue sadar. Gak perlu berjubel pembaca, yang penting menulis. Berbagi. Bercerita.
Okeh, kembali ke anti-mainstream. Bosen gak ngeliatin post panjang gini? Yah, fans setia sih gak akan bosen.
Tau kan stream itu apa? Menurut Oxford Advanced Dictionary, stream adalah sungai kecil. Ah udah gue males ngejabarin. Bukan apa-apa. Gue mengakui kalo fans gue pada pinter. Jadi yang gue anggap mainstream adalah hai hello. Gue pakailah salam, meski nama bapak gue dipertaruhkan. Anti-mainstream. Terus juga gue gak mau pakek embel-embel pangeran berkuda putih. Gue maunya yg kuda item. Anti-mainstream. Kalo ngucapin selamat pagi, gue gak ngegunain "dunia". Tapi "universe". Anti-mainstream. Yah intinya, gue gak akan menggunakan sesuatu yang lumrah, yang umum, dan yang udah sering digunakan. Gue berusaha jadi spesial, walau setiap manusia di dunia ini spesial. I just want something that can differ me with others. Udahan dulu yah. Banyak deadline nungguin. Bye!
Duh gue berasa gak enak soalnya salam itu nama daddy. Tapi, konsep gue akhir-akhir ini adalah anti-mainstream. Gak ngehai, gak ngehello.
Sebelum itu gue mau cerita dulu. Jadi barusan gue nemu blog yang merasa bangga menulis dengan isi personal life. Gimana ya. Bleki emang isinya tentang hidup gue, tapi gue gak ngerasa bangga. Gue cuma menganggap bleki sebagai ajang curhatan sampah gue. Maaf ya blek....
Ketika gue baca isi blog @agungwicaks, gue merasa tertampar. Jadi gue salah ya? Tapi bleki satu-satunya dan sama bleki lah gue bersandar. Maaf gue random.
Eh maaf buat mas agung saya kepoin, soalnya jarang-jarang ada yang komen ke bleki. Ngerasa di appreciate aja gitu. Pertama gue mikir gini, gue ngepost soal diri gue. Emang ada yang mau baca with their pleasure? Emang pentingkah hidup gue buat dibaca-baca? Well, karena gue suka nulis tetep lanjutin aja dan kembali ke prinsip be tambeng. (Tambeng adalah bahasa Palembang yang kira-kira artinya muka tembok )
Kedua, gue selalu ngayal gini "kalo ada yang baca berarti gue punya fans". Dan gue selalu merasa gue banyak fans, walau kenyataan berkata lain. Kenyataan yang pahit...
Nah, gue bukan tipe gadis ceria yang suka loncat sana-sini, punya temen sana-sini, ditaksir orang sana-sini. Gue tipe misterius, bahkan temen gue SMA bilang kalo gue jalan kayak zombie, ngeliat lantai dengan langkah gede-gede. Well, keramaian is not my style. Perpus adalah tongkrongan gue. Dan populer bukan gue banget. Gue paling males kalo jadi pusat perhatian. Mungkin gara-gara trauma SMP. Intinya, gue berimaji kalo gue populer.
Ketiga gini, gue pengen ngeshare. Dan kayak mas agung pula, gue terinspirasi dari para blogger semacam bang Radit dan bang Arip poconggg.
Gue gak terlalu butuh apresiasi, tapi kalo ada sih gak masalah. Gue pernah desperate soal ketidakpopuleran bleki di mata masyarakat. Tapi sekarang gue sadar. Gak perlu berjubel pembaca, yang penting menulis. Berbagi. Bercerita.
Okeh, kembali ke anti-mainstream. Bosen gak ngeliatin post panjang gini? Yah, fans setia sih gak akan bosen.
Tau kan stream itu apa? Menurut Oxford Advanced Dictionary, stream adalah sungai kecil. Ah udah gue males ngejabarin. Bukan apa-apa. Gue mengakui kalo fans gue pada pinter. Jadi yang gue anggap mainstream adalah hai hello. Gue pakailah salam, meski nama bapak gue dipertaruhkan. Anti-mainstream. Terus juga gue gak mau pakek embel-embel pangeran berkuda putih. Gue maunya yg kuda item. Anti-mainstream. Kalo ngucapin selamat pagi, gue gak ngegunain "dunia". Tapi "universe". Anti-mainstream. Yah intinya, gue gak akan menggunakan sesuatu yang lumrah, yang umum, dan yang udah sering digunakan. Gue berusaha jadi spesial, walau setiap manusia di dunia ini spesial. I just want something that can differ me with others. Udahan dulu yah. Banyak deadline nungguin. Bye!

0 comments:
Post a Comment